Senin, 18 Agustus 2014

Pemulihan Jiwa

Teringat kata-kata mama subuh tadi dengan suara bergetar... “Mama selalu berdoa untukmu dan kamu juga harus selalu berdoa untuk dirimu...” Tidak ada hal yang membuatku sangat sedih kecuali mengetahui mama bersedih karena masalahku. Aku sendiri tidak tahu letak titik persoalanku. Namun aku tidak menyalahkan jika hati seorang ibu bisa peka sekuat apapun aku bersikap tegar di depan beliau. 

Yang membuatku sedih bukan masalah perulangan persoalan, hanya saja sepertinya aku harus menghadapi masa-masa yang aku sendiri sulit untuk berpikir akan mengulanginya. Sendiri di rumah ini...bergelut dengan pekerjaan tanpa henti....hati menjadi mati, seakan tidak peka dengan sekelilingku. Dan ketika semuanya terhenti...pikiran dan perasaan serasa sangat kompak menikam. Seakan syaraf tubuh tak ingin patuh pada otak....mengaktifkan semua hormon sentimentil di dalam tubuhku. Katakan saja saya tidak menangis, tapi entahlah....siang ini aku menemukan titik-titik air mata di piring yang berisi makan siang yang enak. Tidak, aku tidak menikmatinya....

Kembali....semua kembali.... Bahkan aku terkadang terkekeh sendiri, apa aku butuh psikiater ? Sejak kapan aku menjadi semanja ini ? Sejak kapan aku mulai tidak menghormati diriku sendiri ? Dan sejak kapan aku membuat orang-orang disekelilingku dan menyayangiku bersedih ? Aku memang tidak minta dikasihani, tapi yang kulakukan terhadap diriku sendiri membuatku terkasihani.

Aku membaca....Orang yang menghormati dirinya, tahu bahwa dia harus mencintai, menyayangi dan memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Jika mudah terprovokasi oleh hal-hal yang tidak penting, berarti kita telah mengabaikan dirisendiri. Gagal, dihina, difitnah dan diremehkan orang lain hanyalah sebuah momentum, proses, kejadian dan peristiwa. Kalau saja kita coba untuk merasakan baik-baik....bukankah diri kita lebih penting dari semua peristiwa tersebut ? Tentu saja !!! Peristiwa tidaklah berumur, peristiwa tidaklah bernyawa dan peristiwa tidak memiliki tubuh. Peristiwa itu tidaklah kekal, ia akan seperti asap dan berlalu begitu saja.

Tidak, aku tidak menyalahkan dia yang meninggalkanku. Ini tidak seharusnya aku menjadikannya sebagai baterai dalam tubuhku.... ia berhak menentukan jalannya, begitupun denganku. Selama ia tidak berlaku curang mengapa aku harus menghakiminya dalam hatiku. Tidak seharusnya aku menjadikannya obat pengalih rasa sakitku yang lama. Walaupun aku berusaha melakukan yang terbaik ketika bersamanya. 

Aku kembali membaca....Kesadaran kita akan persoalan yang dihadapi menentukan rasa sakit yang kita alami. Semakin kita fokus akan rasa sakit, wajar terus menerus merasa sakit, bahkan semakin sakit. Alihkan fokus dan ambil tanggung jawab atas masa depan. Kesadaran membuat rasa sakit semakin berkurang. Ini berbeda, bukan peristiwa yang sama seperti dulu...bukan orang yang sama seperti dulu....dan aku pun tidak seharusnya menjadi orang yang sama dalam menghadapinya.  


footnote : 
saya bosan menulis dengan perasaan yang sama !!!!!! Kenapa tulisanku temanya sama semua.... I should back to be me..... Dan ini baru terpikir, bagaimana bisa menuliskan Hai Malam sehari sebelum semuanya terjadi ? Sepertinya saya bisa jd cenayang hehehe....stop it, ugha ! Sounds you really need psychiatrist.

4 comments:

derosa1412 mengatakan...

Nikmati setiap pilihan yang kamu pilih...jika itu membahagiakanmu,,resapilah dalam-dalam bahkan tertawalah hingga perutmu sakit...tapi tetap bersiaga,,karena mungkin saja sang kecewa ingin turut hadir...tak apalah jika dia datang...
Kembali lagi,,nikmatilah...resapilah sedalam-dalamnya...

Ugha Amalie mengatakan...

Lagii....sekali lagi

Ulfa Arief mengatakan...

Pengalaman mengajarkanmu banyak hal dan memperkaya dirimu akan pengetahuan ttg "variasi rasa" kehidupan.... Tumbuh.dewasa dan bijak adalah harapan.outcome dari semua.pengalaman...

Ugha Amalie mengatakan...

Makasih tante.....

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails
Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Template by YummyLolly.com