Rabu, 25 Januari 2012

Suddenly


June…

Malam ini tiba-tiba kau terlintas dalam pikiranku. Sudah berapa lama kau tak hadir ? Aku sendiri hampir lupa. Aku mulai terbiasa, June. Kau benar, hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka. Hanya waktu yang bisa membuatku terbiasa. Awalnya sulit namun entahlah kau membuatnya menjadi mudah. Semua karena kata-kata terakhir saat itu, bahwa kau “akan selalu ada” untukku.

Matahari mulai menyengat, June. Aku ingat kau suka dengan hal ini, walaupun sinarnya kadang menyengat kulit wajahmu. Ah, mengapa wajahmu begitu sempurna ? kau tahu…aku iri. Rasanya ingin melihatmu berada di loteng lagi, seperti biasa kau berbaring dan memejamkan mata di sana. Aku ingat hawa panas saat itu. Angin sepoi-sepoi meniup ponimu, kau hanya menyambutnya dengan senyum. Kau menikmatinya ?

Aku membuat perahu kertas sore tadi. Aku menaruhnya di kolam renang. Airnya masih seperti dulu, June. Aku ingat kau suka warna biru dari tegel kolam renang. Kau ingin lihat aku berenang ? aku sudah pandai berenang. Jangan tertawa, June ! aku bersumpah aku bisa berenang sekarang. Kau tidak perlu lagi menjagaku…karena aku sudah bisa. Aku belajar karena kau sekarang tidak di sini, June.

June…
Aku ingin mendengar suaramu. Kau tahu sebelum menulis ini aku beberapa kali meneleponmu ? aku bersyukur karena mesin penjawab telepon itu masih menggunakan suaramu. Setidaknya aku mendengarkannya…meski aku sebenarnya ingin mendengar kau bernyanyi untukku.

June…
Aku tidak ingin menangis lagi. Kau melihatku sekarang ? bukan…ini bukan air mata kesedihan, aku tidak sedih. Aku hanya merindukanmu. Kau tidak marah, kan ? aku menepati janjiku, June. Percayalah….

-dariku yg terus membayangkanmu-

2 comments:

janiratna mengatakan...

hmmmmmmmmmmmmmmmmm

Grace Amaliah mengatakan...

hmmmm apa, Jan ?

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails
Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Template by YummyLolly.com