Sabtu, 18 Juni 2011

Me Against The Dream Part I


Sejak kecil kita sudah sering ditanya mengenai mimpi dan cita-cita. Bahkan anak berusia 3 tahun pun sudah berani menjawab dengan lantangnya bahwa ia ingin menjadi dokter. Hal yang sama denganku. Di usia 3 tahun aku belum memiliki adik ataupun banyak teman yang bisa kuajak bermain, yah…aku memang mungkin punya masalah dengan pergaulan sejak kecil. Yang kulakukan hanyalah bermain dengan boneka-boneka yang setiap minggu kuminta pada mamaku dengan merengek. Betapa tidak dengan bertambahnya boneka maka bertambah pula temanku setiap minggunya. Dengan merekalah aku bermain dengan dunia yang kuciptakan sendiri. Kebanyakan aku memerankan sebagai dokter.

Mimpiku saat itu adalah menjadi seorang dokter yang punya banyak pasien. Ketika masuk ke bangku sekolah, seharusnya aku bisa punya banyak teman mengingat tentu saja ada banyak siswa lain di sana selain aku. Namun itu tidak terjadi, aku kesulitan mendapatkan satupun dari mereka. Sejak saat itu mimpiku berubah, aku ingin menjadi orang yang terkenal dan dikerubungi banyak penggemar. Mungkin karena faktor psikologi seorang anak yang kesepian.

Aku mulai merias diriku di depan cermin. Menggunakan make up mama dan mulai berlenggak-lenggok di atas tempat tidur dengan membayangkan bahwa itu adalah sebuah panggung. Memakai mukena panjang di atas kepala, berimajinasi seolah itu adalah rambut panjang yang indah (hahahaha….). Duduk di atas bantal sambil membayangkan menjadi tuan puteri yang duduk di singgasana. Sesekali aku memutar radio (dulu TV adalah barang mewah buatku yang mamanya hanyalah seorang mahasiswa S2 yang sedang nge-kos di kota Bandung) mendengarkan suara Anggun C. Sasmi dan Nike Ardilla, kemudian berakting dengan mengambil gelas susu sebagai microphone…nah akulah sang penyanyi terkenal.

Waktu berlalu, usia membuatku banyak melihat sekelilingku dari waktu ke waktu. Begitu pula dengan mimpiku yang muncul silih berganti. Pernah bermimpi untuk jadi juara olmpiade, pernah bermimpi untuk menjadi pelajar teladan dan banyak lagi.

Saat duduk di bangku universitas, terus terang aku mulai melihat titik terang akan mimpiku (Bc : Mimpi sebelumnya ) . Aku mulain jatuh cinta dengan dunia riset dan pendidikan. Mimpiku berubah…aku ingin menjadi professor, sekolah setinggi mungkin, menjadi seorang ahli, membuka laboratorium sendiri dan mendirikan pusat riset terkemuka di dunia yang mendapatkan kepercayaan dan royalty yang besar di mata masyarakat dunia.

Untuk itu, aku bertekad untuk menyelesaikan studiku setinggi-tingginya. Berjuang, itu yang terus kulakukan dengan mimpi itu. Entah itu mimpi semu atau memang akan terwujud suatu hari nanti. Namun jalan itu tidak mulus, sodaraku….di perjalanannya aku dihadapkan dengan banyak masalah (baca : ketidaksesuaian antara ekspektasi dengan kenyataan).

Mimpiku berubah….aku harus menjadi orang yang mandiri. Cari duit, sukses dan menjadi kebanggaan orang tua. Entah kemana lari buramnya mimpi-mimpi yang lalu. Apa sebenarnya mimpi itu ? sampai pada suatu titik dimana aku berfikir bahwa mimpi adalah sesuatu yang kita ciptakan menurut kenyamanan kita sendiri. Sederhananya tidur memang selalu lebih nikmat ketimbang harus selalu terjaga. Mimpi bisa berada di atas bantal yang empuk dan kasur yang lembut, tapi kenyataan hadir ketika kakimu berpijak di atas tanah yang keras dengan batu yang mungkin melukai kakimu ketika berjalan.

Realistislah !!! kadang-kadang itu yang kuteriakkan pada diriku. Aku pernah menceritakan ini kepada salah satu teman jeniusku. Dia juga punya banyak mimpi indah, namun dengan senyum miris iapun berkata sudah waktunya berhenti bermimpi. Dengan mempertahankan senyumnya ia berkata, terkadang kita tidak memiliki pilihan untuk terus bermimpi…maka bukalah matamu lebar-lebar.

Ada kalanya juga aku berfikir bahwa mimpi adalah sebuah hiburan. Hiburan yang disisipkan Tuhan ke dalam fikiran manusia agar ia mendapat sedikit suntikan semangat ketika menjalani realita. Mimpi akan selalu indah karena ia hadir dari imajinasi dalam zona nyaman kita…mungkin mimpi semacam morphine atau doping bagi seseorang yang tidak kuat menjalani realita sehingga membutuhkannya sebagai nafas semangat dalam tekadnya meraih apa yang ia inginkan. Begitu sederhana….mungkin seperti itu….entahlah…..kali ini aku belum memahaminya….

Untuk sekarang ini, lebih masuk akal jika aku mengatakan bahwa mimpiku adalah masuk surga.

0 comments:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails
Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Template by YummyLolly.com