Minggu, 13 Maret 2011

Monster




Mama….

Helah demi helah nafasku kini sanggup kuhitung. Begitu lemah, pendek dan tak teratur. Ku raba dada kiriku, ternyata organ itu masih berdegup walau tak kalah lemahnya dengan tarikan nafasku. Biarlah…berhentipun kini aku tak peduli, toh hidup tak kalah baiknya dengan mati … bahkan mungkin saat aku mati nanti, aku akan berubah pikiran bahwa seyogiyanya manusia tidak usah lahir ke dunia saja.

Mama…
Ku angkat lenganku. Selang panjang menghias di sana. Sebuah jarum seakan kokoh menjadi pancang selang-selang yang menyalurkan cairan kental berwarna merah dan bening ke dalam pembuluhku. Aku muak, ma … Mengapa kau masih menyuruh mereka menyambung nyawaku ?

Tes..tes..tes…
Setitik demi setitik cairan itu menggenang di dalam tabung kecil yang menghubungkan botol infus dan selangku. Bola mataku bergerak naik turun mengikuti tetesannya. Beberapa lama kulakukan itu hingga aku memejamkan mata. Pening. Sampai kapan aku begini ? Aku bahkan tidak pernah berhenti meminta kepada Tuhan untuk menuntaskan penderitaanku, penderitaan yang bersumber dari hidupku. Yah, benar ! aku mungkin memohon agar Tuhan membunuhku saja. Agar aku berhenti di sini, agar lelahku lepas hingga di sini, agar perjalananku berujung di sini saja.

Mama…
Aku bisa melihatmu sekarang. Kau duduk tepat di seberang ranjangku. Kepalamu terkulai di sisi kiri sofa. Kau terlihat lelah. Aku bisa melihat gurat-gurat itu di wajahmu. Aku tak pernah menyangka kau berubah hingga terlihat setua ini. Aku merindukanmu, Ma. Itu adalah perasaan yang tidak akan pernah kukatakan dengan mulutku. Aku membencimu. Itu yang akan kukatakan. Dan kita sudah saling mengingkari ikatan darah kita. Kaupun tidak mengakuiku lagi, bukan ?

Mama…
Mengapa kini kau ada di sini ? Apa kau mengkhawatirkanku ? Apa kau juga merindukanku ? Tapi mengapa ? Bukankah kau mengatakan bahwa kau tidak menginginkanku lagi ?

Mama…
Aku ingat pertengkaran-pertengkaran kita. Pertengkaran yang kita lakukan secara rutin sejak umurku menginjak 17 tahun. Kita memang tak sejalan, Ma. Aku sudah tahu itu bahkan sejak umurku 5 tahun. Namun saat itu aku terlalu kecil untuk menentangmu. Kau berbeda, sangat berbeda dengan ibu yang dimiliki teman-temanku. Mengapa, Ma ? mengapa kau tidak sama dengan ibu yang lain ?

Mama…
Saat kau pertama kali menggebrak mejaku, aku begitu terkejut … bukan !! … aku takut padamu. Kau seperti monster. Itu yang kukatakan pada teman-teman sepermainanku. Mereka malah meleletkan lidah saat mendengar mamaku adalah monster yang berwujud manusia. Mereka tidak percaya, Ma. Tapi bukankah kau benar-benar monster ? Mengapa Cuma aku yang mengetahuinya, Ma ?

Mama…
Kau membuatku ngompol saat itu. Sudah kukatakan aku takut padamu. Kau memukuliku tanpa ampun. Aku ingat sepotong kue yang kau rampas dari tanganku. Krimnya mengotori karpet putihmu saat kau melemparnya jatuh.

Mama…
Mengapa kau marah ? apa karena aku mengompol ? apa karena karpet putihmu kotor ? kau sendiri yang mengotorinya. Bukan aku. Aku memang masih berumur 5 tahun saat itu, namun aku sudah hafal hal-hal yang bisa membuatmu marah. Aku tidak ingin kau berubah menjadi monster.



Mama…
GEMUK. Satu kata yang sangat menakutkanku. Ketika kau menyebutkannya seluruh tubuhku seakan gemetar, bulu kudukku meremang, tetes-tetes keringat seakan ingin membanjir untuk keluar dari pori-pori kulitku. Itu sebuah kata kutukan untukku dari mu, Ma. Aku hanya makan sepotong pizza yang disisakan ayah. Namun kau menjambak rambutku dengan kasar. Sakit mama … kau menendangku jatuh dari kursiku. Tanganku masih belepotan krim keju saat kau menarikku ke bak cuci. Tapi bukan tanganku yang kau raih untuk dicuci. Kau meraih wajahku dengan kasar, memaksaku membuka mulut lalu kau memasukkan telunjukmu ke dalamnya. Aku bisa merasakan telunjukmu di kerongkonganku. Rasanya sakit, ma …. kukumu melukai bagian dalamnya.

Mama…
Apa kau tidak menginginkanku ? Apa kau ingin aku mati saja ? Umurku baru 10 tahun, Ma. Kau tidak pernah memasak makan malam lagi. Yah, sekarang bukan masalah lagi. Toh, kau sudah tidak memasak untuk ayah lagi. Kalian sudah bercerai, bukan ? tapi mengapa kau tidak membiarkanku pergi bersama ayah ? dan saat kutanyakan itu padamu, kau malah memperpanjang hukumanku. Kau tidak memberiku sarapan.

Mama…
Aku lapar. Aku seperti tidak pernah makan selama 12 tahun hidupku. Aku takut kau berbah jadi monster saat melihatku makan. Aku takut kau mencekokiku dengan telunjuk dan kukumu yang tajam. Saat ini kau tidak di rumah, jadi kucuri saja sepotong sandwich di kulkas.

Mama…
Apa aku juga terlihat seperti monster ? Teman-temanku melirik aneh padaku. Apa salahku ? aku hanya makan sebanyak mungkin di kantin saat istirahat. Kau tidak memberiku makan, Ma … maka aku harus makan sebelum pulang ke rumah. Kau jangan khawatir … aku tidak akan membuatmu kesal, Ma. Aku memang makan banyak tapi aku selalu melakukan hal yang sering kau lakukan padaku saat kau mendapatiku makan banyak.

Mama…
Muntahku banyak, Ma. Aku sudah puas makan dan semuanya sudah kukeluarkan. Kau tidak perlu menjadi monster. Perutku sudah bersih … dan kau tidak akan mengutukku dengan sebutan GENDUT lagi.



Mama…
Aku mencintai pria itu. Mengapa kau membencinya ? Dia bukan ayah yang sering kau sebut-sebut sebagai penjahat. Dia tidak akan berselingkuh seperti ayah. Dia mencintaiku … dia sudah mengatakan itu, Ma. Aku percaya itu. Umurku sudah 17 tahun, apa kau tidak bisa melihatku yang tumbuh dewasa ?

Mama…
Ini pertengkaran kita yang pertama. Entah karena mencintainya aku seperti mendapat kekuatan untuk menentangmu. Aku lelah patuh dengan sifat monstermu, Ma. Aku ingin tumbuh normal. Aku ingin makan banyak … aku tidak ingin muntah lagi dan aku ingin menikah dengannya. Dan saat kau mengusirku dari rumah, entah mengapa aku merasa kekangan di diriku tiba-tiba terlepas. Seperti tidak ada lagi tangan-tangan yang menjambak rambutku … seperti tidak ada lagi kaki yang menendangku jatuh setiap saat dan tersungkur menyakitkan. Seperti tidak ada lagi telunjuk berkuku tajam mengorek tenggorokan dan menumpahkan isi perutku ke bak cuci.

Mama…
Aku bahagia bersamanya. Namun kau sudah merasuk ke dalam diriku. Kau mewariskanku darah yang sama denganmu … kau sudah terlanjur menjadikanku monster. Itu yang dikatakannya, Ma. Itu yang dikatakan pria yang kini kunikahi, mungkin ia tidak menginginkanku lagi. Atau mungkin juga ia benar, aku ini monster karena aku lahir dari rahimmu.

Mama…
Aku terkejut saat melihatnya bersama wanita lain. Ia yang dulu membuatku percaya bahwa mencintaiku kini erngkul wanita itu. Ia melihatku terpaku memandangnya. Ia mengecup kening wanita itu lalu berjalan menghampiriku. Ia memukulku seperti yang dulu kau lakukan. Ia juga menjambak rambutku dan menendangku sepertimu.

Mama…
Aku bercerai dengannya. Kali ini kau benar, Ma. Ia seperti ayah. Ia adalah penjahat Kini yang kulakukan hanyalah mengurung diri. Mataku tak pernah mongering lagi setelah itu, Ma. Dan aku terus merasa lapar. Aku makan banyak, Ma. Tapi aku selalu membersihkannya. Rasanya nikmat saat menumpahkan seluruh isi perutku di toilet, Ma. Kulakukan itu setiap kali aku sedih. Aku muntah saat aku menangisinya, Ma. Bahkan aku sudah tidak peduli lagi isi perutku sudah habis atau belum.




Mama…
Tubuhku seperti ranting. Aku tertegun saat memandangnya di cermin. Tapi aku tetap tersenyum, setidaknya aku tidak terkena kutukan GEMUK seperti yang kau katakan. Aku tetap muntah hingga cairan keruh berwarna kemerahan keluar. Bahkan aku sempat histeris saat bola mataku berubah. Ada bercak-bercak darah di sana. Pembuluh darahku pecah saat aku muntah, Ma. Kata dokter aku ini seorang anorexic akut.

Mama…
Mengapa kau melahirkanku dalam keadaan seperti ini ?
Aku muntah dan kembali berpikir…

Mengapa kau memberikanku perlakuan seperti monster sejak aku kecil ?
Aku muntah dan kembali berpikir…

Mengapa kau tidak pernah memberikanku kesempatan untuk tumbuh normal ?
Aku muntah dan kembali berpikir…

Mengapa aku jatuh cinta dan dikhianati sepertimu ?
Aku muntah dan berpikir kembali berpikir…

Mengapa ? Mengapa ? Mengapa ?



Mama…
Penglihatanku gelap. Aku muntah lagi, Ma. Muntah yang hebat. Aku hanya membersihkan perutku seperti biasa. Tapi sesuatu yang aneh kini terjadi padaku. Aku mendengar sesuatu meletup keras dalam kepalaku. Apa pembuluh darahku pecah lagi ?

Mama…
Apa kau terbangun ? aku melihatmu bangkit dari sofa dan mendekatiku dengan panik. Aku mendengarmu memanggil namaku … kau berteriak, Ma. Aku hanya sesak nafas, mungkin sedikit kejang. Kau jangan khawatir, Ma. Aku hanya sedikit lelah. Mungkin sebaiknya aku tertidur saja. Pelupuk mataku memberat Ma. Aku hanya bisa melihat kau menangis samar-samar melalui kabut mataku.

Mama….
Ada satu hal yang belum sempat kutanyakan padamu. Apakah aku juga monster ?

0 comments:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails
Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Template by YummyLolly.com