Kamis, 06 Januari 2011

Ini Bukan Kisahku..Ini Kisah Aisha !!!




Ini bukan kisahku, terlalu melankolis untuk hidup sederhana yang kujalani. Entah kata anak sekarang itu aL4Y atau L3B4y…tapi kelihatan terlalu didramatisir jika aku mengaku ini kisahku. Jadi sebut saja namanya Aisha…kuputuskan memakai nama itu karena ini adalah nama terkeren yang pernah dipikirkan oleh my extraordinaire friend, Dinosaurus Hijau.

Malam itu, Aisha terisak hebat di tempat tidurnya. Entah apa yang terjadi, maka kuputuskan untuk memandangnya di sela-sela mata bengkak berkucuran air mata dan ingus encer yang tak henti disedotnya…yah kadang-kadang pun ia membersitkannya.

Aisha bukan gadis cantik, cukup biasa…standar-standar saja. Tubuhnya tidak semampai namun tidak gendut. Wajahnya tidak cantik namun cukup jauh dari kata jelek. Dia juga bukan mahasiswi terpandai di kampusnya…ia hanya memiliki daya tarik standar dengan cukup pandai dalam beberapa mata kuliah, aktif berorganisasi dengan mengetuai sebuah departemen di himpunan kampusnya. Ia dikenal…cukup dikenal setelah menjadi asisten dosen…yah seperti itulah, ia tidak cukup spesial seperti gadis-gadis sempurna yang digambarkan dalam novel remaja maka kudeskripsikan ia se-realistis mungkin.

Saat kutanya apa yang terjadi, tangisnya meledak kembali…ia mulai menyebutkan satu nama sebut saja namanya Fardeen. Hah, kali ini kupinjam nama sepupu tersayangku. Ya, jadi nama itu adalah Fardeen. Kutanya lagi, siapa Fardeen ? maka tanpa ragu ia menyebut “temanku”. Lalu apa masalah Fardeen ? ia berkata dengan nada sendu dan kecewa…”Fardeen berubah”.

Sumpah mendengar ini aku tidak tahu harus berkata apa, entah bagaimana cara menghibur orang yang bermasalah dengan cowok…karena selama ini aku terlalu sibuk dengan hidupku yang jauh dari urusan cowok. Satu-satunya dilema percintaan yang kutangani hanyalah konflik antara sepasang kekasih bernama “badan” dan “pakaian”.

Badanku berkata pada pakaianku, “Kau sudah berubah” sehingga pakaianpun merasa sedih hendak diputuskan, ia bertanya pada badanku…”Apa salahku ?”…maka badanku pun berkata “Rasanya kita sudah tidak cocok lagi…kau tidak bisa mengerti aku…dikala aku membesar, kau tidak pernah mau ikut membesar…kau sungguh tidak memahamiku”. Badanku kini tersedu-sedu menatap pakaian yang kini kekecilan untuknya.

Nah, seperti itulah….

Kembali pada Aisha…matanya menerawang membayangkan Fardeen. Air matanya menitik lagi…Aisha mendesah, dan kisahnya pun dimulai…..



Aku menyayangi Fardeen, namun tidak sekalipun terlintas dipikiranku bahwa aku naksir padanya. Dia hanya cowok norak yang berjalan dengan kaki O nya. Beberapa gadis naksir padanya tapi aku selalu berfikir apa daya tariknya. Dia memang cakep, tapi bagiku kenorakan yang ia miliki cukup menutupi kelebihan wajahnya. Kami dekat sejak Maba…entah karena apa. Mungkin saat dia mengajakku makan bersama di kantin. Gado-Gado. Itu makanan kami. Kami hanya makan berdua tanpa mengajak teman lainnya.

Setelah itu ia mulai datang ke rumahku. Kami belajar bersama, ia juga suka pulang larut malam demi mengerjakan tugas bersamaku. Kadang jika aku keluar hingga malam, ia rela menunggu di depan rumahku hingga aku datang dan kemudian kami belajar bersama lagi hingga larut malam. Aku lebih pintar darinya, tapi kadang ia lebih beruntung dariku. Nilainya selalu bagus dan itu menyebalkanku. Kadang jika ia bertanya tidak mengerti, kujawab ia dengan kasar…bahkan untuk soal sederhana yang tidak bisa diselesaikannya pun membuatku jengkel…otaknya terbuat dari apa ?

Saat ingin mengumpulkan tugas dan ia lupa menge-print sampulnya, ia akan berlari-lari kecil dengan kaki O nya mendekatiku seraya menyerahkan sampulnya untuk kutulisi nama dan stambuknya. Apa istimewanya tulisanku ? Namun ia selalu melakukannya…ia tidak pernah meminta kepada orang lain. Kadang itu juga membuatku sebal.
Jika aku marah, ia tetap mengikutiku dari belakang tampak tidak pernah sadar kalau aku sebal padanya. Ia selalu memutar musik dari HP nya keras-keras saat belajar di manapun dan kapanpun, seharusnya dia menggunakan headset…karena itu bisa menggangguku.

Ia suka mengantarku pulang. Aku tidak bisa mengendarai motor saat itu, maka aku mau saja duduk di belakangnya saat ia membawa motor. Tapi tak jarang aku memukul bahunya jika ia melanggar aturan lalu lintas. Itu kebiasaannya, berhenti di atas zebra cross saat lampu merah, suka mengambil jalur di lajur seberang hanya karena jalurnya macet…kebiasaan motor masa kini, menambah macet jalur lain. Dia juga suka menginterpretasikan lampu kuning dengan versi berbeda…bukan “hati-hati” tapi “ngebut” seakan ia tidak sudi bertemu dengan lampu merah.
Dan satu lagi kenorakannya yang kubenci. Dia benar-benar seperti bentor….memutar musik keras-keras saat melintas di jalan raya.

Noraknya dia…tidak hanya membuatku sebal, tapi tekadang membuatku tertawa terbahak-bahak. Pernah suatu ketika kami memasuki sebuah toko CD. Aku sibuk melihat-lihat CD terbaru saat ia menarikku ke arah sebuah tape. Kemudian ia memakai headphone, dan berbisik padaku….bagaimana caranya putar CD di sini ??? Hello…hare gene….

Di lain tempat, di Mall, ia juga pernah memintaku menemaninya. Ayo ke ATM, ajaknya. OK, kataku sambil berjalan di sampingnya. Kami memasuki ruang mesin ATM bersama. Ia mengeluarkan kartunya dan menyeraknnya padaku seraya berkata….tolong, bagaimana caranya pakai ini mesin ATM….ya Tuhan….apa dia benar-benar makhluk ternorak di belahan bumi ini ???
Itu benar-benar membuatku terbahak hingga 3 hari ke depan hanya dengan melihat wajahnya.

Ia cakep tapi tidak keren. Aku baru tahu ada cowok yang tidak tahu memetik gitar. Satu kunci pun tidak diketahuinya. Ia juga tidak bisa main bola, padahal ia punya kaki O yang bisa sangat membantu.

Saat aku membeli motor pertamaku, aku belum mahir mengendarainya. Maka ia rela meninggalkan motornya dan mengendarai motorku selama aku belum mahir. Tapi tentu saja aku tidak mengizinkan motorku bermetamorfosis menjadi bentor. Ini motorku…dan kuterapkan peraturanku padanya.

Ia pernah tidak masuk kampus hingga seminggu…tidak ada dia membuatku aneh. Sungguh aneh berada di luar lingkaran kenorakannya walau untuk sesaat. Belakangan kutahu ia terkena campak. Ia ke kampus dengan sisa bintik-bintik merah di wajahnya. Mungkin aku sedikit kasihan. Ia datang padaku dan berkata ia akan pulang dengan angkot, namun kutawari ia naik motorku. Kalau bukan aku, siapa lagi yang mau menawari penderita campak untuk duduk dekat-dekat dengannya.
Aku care padanya…mungkin aku sayang…ia sedang sakit dan ia teman terbaikku.
Maka aku pun duduk di belakangnya sementara ia mengendarai motorku, sembari kukatakan padanya….itu makanya, imunisasi harus lengkap sejak bayi.

Kadang-kadang aku mengatakan hal yang kejam padanya, seperti malangnya ia tidak mendapatkan imunisasi yang layak…bahkan mengatakan ia anak pungut dengan fakta bahwa golongan darahnya tidak sesuai dengan orang tuanya, bahkan jika kau mencocokkannya dengan melakukan perhitungan persilangan gen yang kau pelajari dalam biologi SMA. Dia jelas berbeda…itu menambah point plus dalam kamus kenorakannya. Ia berbeda dan itu norak menurutku.

Orang tuaku, bahkan seluruh anggota keluargaku mengira kami berpacaran. Tapi tidak. Tentu saja tidak. Ia lulus duluan dan itu membuat ayahku bertanya padanya, kenapa ia tidak menungguku lulus bersamanya. Setelah ia lulus, belum ada yang berubah dari kami. Aku masih kasar padanya namun ia tidak berubah masih tetap norak dan mengikutiku.

Akhirnya ia bekerja dan berangkat ke ibukota setelah pengangkatannya. Dan benar saja kata orang-orang, sekejam-kejamnya ibu tiri maka lebih kejam lagi ibu kota. Ibu kota telah mengubahnya. Ia pulang dengan perubahan drastic pada dirinya. Setidaknya terhadapku. Ia bukan lagi Fardeen yang dulu kukenal.

Kami jarang bicara sejak itu. Ia sibuk, aku tahu itu…sesekali ia masih menelponku…dan aku belum berubah, tetap dingin dan kasar padanya. Perubahannya lama kelamaan mulai terasa. Pernah suatu hari ku dapati fotonya di facebook dikelilingi gadis-gadis dan ia tertawa ke arah kamera mengacungkan jempol sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku benci foto itu. Apa yang berusaha ditunjukkannya ?

Ku sms dia…ia membalas seadanya dan tidak membalas sms berikutnya. Bahkan saat ulang tahunnya, ku kirimkan ia ucapan selamat…namun tidak ada balasan sama sekali bahkan hanya untuk sekedar berkata “Thanks”.

Hingga dua hari lalu kutelpon ia…seorang gadis mengangkatnya. Gadis itu memakiku. Itu yang kutahu dari kata-kata pedas dan intonasi tak bersahabatnya. Aku bisa mendengar suara Fardeen di sebelahnya dan ia terdengar seperti tidak berusaha untuk menghentikan apa yang dikatakan gadis itu padaku. Aku dongkol setengah mati sampai sang gadis itu menyerahkan telepon pada Fardeen.
Aku lega mendengar suaranya, namun aku merasa seperti terpenggal saat ia mengatakan “Itu tadi pacarku”. Bahkan tidak ada kata “sorry”.

Sekarang itu cukup membuatku menangis seperti sekarang ini. Fakta bahwa aku benar-benar kehilangan dia. Aku tidak akan lagi melihat kenorakannya. Aku tidak akan lagi melihat ia mengikutiku. Aku tidak akan lagi berkata kasar padanya. Dan anehnya itu menyakitkanku.

Sulit tapi harus kuakui…
Aku merindukan ia berjalan di belakangku
Aku merindukan masa-masa kami belajar bersama hingga larut malam
Aku merindukan melihatnya berlari ke arahku dengan kaki O nya
Aku merindukan pertengkaran-pertengkaran kami dalam perpustakaan saat berdiskusi masalah kuliah, bagiku aku tetap lebih pandai darinya
Aku merindukan ia yang memandangku saat bermain gitar dengan mulut ternganga
Aku merindukan duduk di belakangnya saat naik motor
Aku merindukan telepon-telepon tidak pentingnya

Sekarang itu tidak akan pernah ada. Ia sudah memiliki seseorang yang mungkin lebih baik dariku, gadis itu mungkin lebih bisa menyayanginya dariku. Menghargainya lebih dariku. Menerima semua kekurangan dan kenorakannya. Aku mungkin tidak mencintai Fardeen. Aku tidak ingin menjadi pacarnya. Aku rela ia bersama gadis itu…tapi apakah aku egois jika memintanya tetap seperti dulu ? Aku menginginkannya untuk tidak berubah. Aku lebih suka ia sebagai temanku yang dulu. Semua karena aku menyayanginya.



Semua diakui Aisha padaku. Ia memelukku. Tubuhnya berguncang karena isaknya yang tak kunjung henti hingga ia membubuhi titik di akhir ceritanya. Kurasakan kaosku basah oleh air matanya, namun saat ia menyedot ingusnya keras-keras kulepaskan pelukannya. Ingusnya bisa saja juga membasahi kaosku. Kuberikan ia sejumput tissue, ia menerimanya dan segera membersit ke dalamnya. Aku bukan seorang penasehat, namun aku pendengar yang baik. Setidaknya semoga kehadiranku bisa menghiburnya.

Kutepuk-tepuk bahunya, berusaha menenangkannya. Cuma ini yang bisa kulakukan. Ternyata konflik yang dirasakan oleh Aisha terhadap Fardeen lebih besar ketimbang konflik yang dirasakan oleh “pakaian” terhadap “badanku”. Aku tidak ingin “badanku” bersedih seperti Aisha karena kehilangan “pakaian”. Mungkin dengan berhenti makan bakso bisa membantunya bersatu kembali dengan “pakaian” .


Itu pelajaran yang bisa kuambil dari seorang Aisha. Kalau kalian ???


2 comments:

intuisiq mengatakan...

nice story ugha....

Grace Amaliah mengatakan...

Thanks...heheh (^^)v

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails
Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Template by YummyLolly.com