Sabtu, 26 Juni 2010

LOVE againts the FAITH


Dear God,YHWH,El,Allah,Tuhan...
In Your majesty, You create differences
In my arrogance, I question Your wisdom
In Your mystery, You create temptation
In my inferiority, You make me more than I am
So here I am...
Surrender me in the agony of Your love
Surrender me in the erony of Your law
Lead me to the joy of love redivined
Teach me how to love You more
[From : cin(T)a]

Seperti kutipan di atas...Tuhan memang penuh dengan misteri. Sebagai hamba tidak ada daya upaya untuk bisa menebaknya. Bahkan kita hanya bisa memahaminya dengan versi kita sendiri...tak ada yang tau kebenaranNya kecuali Dia sendiri...yang dapat kita lakukan adalah YAKIN dan PERCAYA.

Di sini saya hanya bisa bertanya karena tidak dapat mempertanyakannya.

Mengapa Tuhan menciptakan perbedaan, jika Dia menginginkan semua sama berjalan di jalanNya? Mengapa Tuhan menciptakan beragam cinta jika Dia memberi aturan hanya cinta yang sama yang dapat bersatu ? Mengapa Tuhan menciptakan perbedaan keyakinan dalam hati jika semua hati berada dalam genggamanNya…bukankah Dia Sang Penguasa Hati ? Semua jawaban adalah rahasianya.

Aku YAKIN bahwa Tuhan mencintaiku…Aku PERCAYA bahwa Tuhan juga mencintainya…Tapi mengapa kami tidak bisa saling mencintai hanya karena kami menyebut nama Tuhan dengan cara yang berbeda…? Apakah ini bisa disebut dengan ketidakadilan ? Tidak ada yang menginginkan jatuh cinta jika cinta itu terlarang baginya. Tidak ada yang ingin mencintai seseorang yang tidak boleh dicintainya.

Kami berbeda…yah…kami memang sangat berbeda. Berbeda kebudayaan, berbeda bahasa, berbeda negara dan berbeda KEPERCAYAAN. Kami hanya memiliki kesamaan dengan saling menyukai. Kami bisa menerima perbedaan itu…namun satu perbedaan yang sulit kami satukan. Perbedaan yang datang dari keyakinan akan Tuhan.

Semua diawali dari perkenalan kami yang biasa-biasa saja. Dia mungkin tertarik untuk berkenalan karena tidak mengerti dengan bahasa yang kugunakan dan mungkin pula karena penasaran dengan pekerjaanku. Kelihatan mirip dengan profesinya sebagai arsitek. Kami mulai mengobrol hal-hal yang ringan. Mulai dari keadaan Indonesia…bahkan ia mencari dan membaca semua profil tentang kota Makassar dari internet.

Aku menganggap ini biasa saja. Ia mulai menanyakan banyak hal tentang Indonesia…terutama dengan nilai mata uang kami yang begitu tinggi. Kami bahkan membandingkan harga telur di Indonesia yaitu Rp.1000,- yang senilai dengan 2,5 peso di negaranya. Dari mata uang kami pindah membicarakan pekerjaan kami masing-masing…Ia seorang arsitek dan aku seorang civil engineer. Pekerjaan kami begitu dekat…kami banyak mendiskusikan tentang standar struktur bangunan di Negara kami. Ia yang bekerja di sebuah gedung tinggi di pusat kota dan aku yang hanya bekerja sebagai asisten pengajar di salah satu Laboratorium di Universitasku. Ia begitu mengagumi kelebihanku di bidangku dan begitupun sebaliknya, sebagai mana kami saling mengakui kelemahan kami…ia yang tidak suka menghitung mekanika dan menganalisis struktur gedung…dan aku yang sangat membenci tugas menggambar struktur tersebut. Hahaha….

Kami juga membicarakan bagaimana keadaan politik di Negara kami. Kebiasaan dan kultur di Negara kami. Semua begitu menarik. Awalnya aku tahu bahwa kami pasti berbeda keyakinan, dan hal itu bukanlah hal penting bagiku pada awalnya. Kami layaknya teman yang setiap hari bersama dan membicarakan banyak hal. Bahkan saat Malam Paskah…aku menemaninya ketika ia merasa bosn sebelum akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan ibadahnya.

Kami mulai memperkenalkan diri kami masing-masing lebih dalam, membicarakan tentang kebisaan buruk kami…mebicarakan tentang kekonyolan kami. Kami berusaha untuk menjadi teman apa adanya…Semua berjalan begitu menyenangkan sebelum akhirnya kami mulai menyadari jika perkenalan singkat kami membuahkan rasa saling suka. Namun dari semua hal yang kami bicarakan, hanya ada satu hal yang membuat kami tidak bisa terus tidak membahasnya. AGAMA. Agama kami memang berbeda. Entah sekuat apapun kami menahan untuk tidak membicarakannya, sepakat untuk tidak mempermasalahkannya…namun tetap saja hal ini tidak dapat dihindari. Ia mulai memintaku untuk melihatnya sebagai seorang kristian karena ia yakin ia akan selalu menerimaku sebagai seorang muslim.

Kami tetap saling menghargai, namun kami tahu bahwa kami tidak akan selamanya bisa seperti sekarang ini. Sampai kapan ? Kami sadar semua pada akhirnya harus di akhiri cepat atau lambat. Karena dengan ketaatan kami pada agama masing-masing, kami tidak bisa menyatukan perbedaan ini.


This is it...

Dan inilah akhirnya, perpisahan kami diakhiri dengan pembahasan masalah kepercayaan. Kami memilih untuk mengakhirinya…sebelum perasaan kami sudah tidak dapat kami kendalikan….perpisahan secepat ini memang menyakitkan namun inilah yang terbaik sebelum hal menyakitkan lain bisa terjadi.


Kata perpisahan darinya :


bec. of you i have learned many things and thank you for letting me enter your life you’re a very wonderful person deep inside and i know i have said this before and i have said this many times, and im going to say it again that i deeply appreciate you for what you are i want to thank you as well for entering my life…



Tuhan…inilah kami dengan perasaan kami. Kami hanya bisa menunjukkannya padaMu, namun kami tidak bisa mewujudkannya karena kami teramat mencintaiMu melebihi cinta kami terhadap diri kami. Kau Maha Mengetahui atas kami, dan kami serahkan cinta kami berdua kepadaMu.


0 comments:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails
Diberdayakan oleh Blogger.
 

Blog Template by YummyLolly.com